#

Minggu, 28 Februari 2010

GENERASI PEWARIS PERADABAN


Oleh: Fahri Hidayat

Segala sesuatu pasti memiliki batas usia. Demikian juga halnya dengan sebuah peradaban. Ada masa-masa tertentu dimana sebuah peradaban mengalami puncak kejayaan, kebesaran dan kemajuannya. Namun akan ada penggalan masa lain dimana ia akan kehilangan semua kemegahannya itu.


Kemajuan pada sebuah peradaban tidak akan berlangsung sepanjang usia peradaban tersebut. Kemajuan itu hanya akan ada pada potongan-potongan masa tertentu dari keseluruhan usianya. Hingga pada akhirnya sebuah peradaban yang besar sekalipun tetap akan menemui ajalnya, dan terbenam dalam lembaran-lembaran sejarah.

Seorang sejarawan besar abad pertengahan, Ibnu Kholdun berpendapat bahwa biasanya sebuah peradaban akan di isi oleh lima generasi. Dimana masing-masing generasi memiliki karakter dan mental yang berbeda-beda. Generasi pertama adalah generasi perintis. Biasanya mereka adalah orang-orang yang memiliki semangat juang tinggi, pantang menyerah, cerdas, dan berkomitmen besar dalam membangun peradabannya. Kemudian generasi kedua adalah generasi pengembang. Mereka masih mewarisi semangat dan ruh perjuangan bapak-bapak mereka. Biasanya pada masa merekalah sebuah peradaban akan mencapai puncak kemajuannya.

Generasi ketiga adalah generasi penjaga tradisi. Di mulai dari sinilah sebuah peradaban menjadi stagnan. Tidak lagi berkembang, namun masih tetap memiliki eksistensi kewibawaan. Semangat untuk mengembangkan sebuah peradaban sudah tidak seperti para pendahulunya, walaupun masih terbilang eksis. Kemudian disusul oleh generasi keempat, yaitu generasi penikmat. Pada fase ini para penguasa dan masyarakatnya sudah mulai senang berfoya-foya dan meninggalkan akhlakul karimah. Mereka hanya menikmati apa yang sudah di beli oleh para leluhurnya dengan keringat dan darah. Maka, Kedholiman dan ketidakadilan mulai tampak dimana-mana. Sehingga tatanan sosial yang sudah disusun rapi menjadi tidak stabil.

Generasi terakhir adalah generasi perusak. Para penguasa pada fase ini sudah benar-benar kehilangan ruh dan semangat perjuangan. Mereka sudah terlena dengan segala kemewahan yang ada sehingga menjadi lemah. Biasanya, situasi ini diperparah dengan banyaknya gerakan pemberontakan dari internal maupun eksternal. Para penguasa bodoh yang hanya berhura-hura itu akhirnya tidak mampu membendung semua gejolak politik yang ada. Dan hancurlah peradaban yang sudah sekian lama di bangun itu.

Pola diatas, sebenarnya tidak hanya berlaku untuk skala peradaban saja. Namun juga berlaku untuk sebuah kerajaan, negara, dan bahkan organisasi sekalipun. Jika kita mengamati sejarah kerajaan-kerajaan ataupun organisasi-organisasi berlabelkan apapun itu, hampir dapat di pastikan semuanya mengikuti pola diatas.

Pada tahun 1258, pusat peradaban Islam di Bagdad dapat dengan mudah di hancurkan oleh tentara mongol pimpinan Hulagu. Mengapa? Karena saat itu umat islam yang dipimpin oleh Dinasti Abasiyah sudah di isi oleh orang-orang generasi kelima, sedangkan bangsa mongol keturunan Jengis Khan itu masih berada pada generasi kedua yang memiliki ambisi kuat membara.

Demikian juga Raja Persia, Darius III yang memiliki tentara yang sangat besar itu berhasil di hancurkan oleh pasukan Alexander The Great dari Macedonia. Karena imperium Macedonia yang di pimpin Alexander masih berada pada periode perintisan. Maka semangatnya dan semangat pasukannya masih berapi-api. Sementara Raja Darius III terlena dengan jumlah pasukannya yang jauh melebihi pasukan Alexander. Pada akhirnya, pasukan Alexander yang sedikit itu ternyata bisa menghancurkan barisan tentara pasukan Persia.

Ada banyak sekali kisah dalam sejarah yang menceritakan tentang bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban. Maka, ada di generasi ke berapakah kita saat ini???
(sumber: http://fahrihidayat.blogspot.com)